Berita Terbaru
Home » Profil Singkat » Cerita Bapak Hartarto

Cerita Bapak Hartarto

Reformasi telah mengubah nasib etnis Tionghoa di Indonesia. Tidak seperti pada masa sebelumnya, kini mereka dapat lebih bebas berekspresi di berbagai bidang kehidupan. Sekat pembatas menguap seiiring dengan dihapusnya kebijakan pembatasan yang berlaku sejak akhir 1950-an dan utamanya selama Orde Baru.

“Mau mendapatkan pendidikan saja susah. Apalagi berpolitik paling sulit saat itu,” kata politikus Partai Demokrat, Hartarto Lojaya.

Sosok energik dan ramah terhadap masyarakat ini mengatakan Indonesia adalah sebuah bangsa dengan beragam etnis dan budaya. Cita-cita untuk menciptakan sebuah Negara maju dan sejahtera dengan bangsa yang bersatu tampak dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Menapaki karier politik bagi Hartarto bukanlah perkara yang mudah. Terlebih banyak rekannya dari etnis Tionghoa yang menyandang status sebagai pengusaha enggan turut campur ke ranah politik. “Sebab, mereka belum bisa menerima politik dengan baik,” kata dia.

Gaya bahasanya yang santai, mau menerima pendapat orang lain, dan senang bertukar pikiran mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Hartarto makin diterima dan mewakili suara masyarakat di DPRD Provinsi Lampung. Tidak hanya sampai di situ, Hartarto juga dengan senang hati menyiapkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk dunia olahraga, seni budaya, dan politik. Namun, perlahan dukungan terus mengalir setelah rekan-rekan dan keluarganya menyadari berpolitik, khususnya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat banyak.

“Saya akui, waktu satu tahun lebih berkecimpung di dunia politik, sulit diterima rekan dan keluarga. Saya diminta focus dengan dunia usaha saja,” ujar pria kelahiran 25 Agustus 1966 itu.

Anggota DPRD Provinsi Lampung mengaku awal karier politiknya dimulai pada 2003. Dia diminta menjadi koordinator tim sukses presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Meskipun mulanya hanya sebatas bergabung untuk membantu organisasi.

Bagi suami dari Suriawita Tjiardy itu, keinginannya terjun ke dunia politik bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan cita-cita luhur untuk mengubah citra masyarakat bahwa etnis Tionghoa dapat turut berperan membangun bangsa.

Dia menguraikan masyarakat etnis Tionghoa dalam berbangsa dan bernegara telah lama tumbuh bersamaan dengan pemuda-pemudi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat pada pertama kali dideklarasikannya Sumpah Pemuda pada 1928, pemuda etnis Tionghoa turut serta di dalamnya. Apalagi kini masyarakat Tionghoa telah ditetapkan sebagai bagian suku bangsa di Indonesia setelah pemerintahan Presiden SBY mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014.

Ayah dua anak ini menyatakan politik di Tanah Air membutuhkan sosok Tionghoa di dalamnya. “Kami sebagai suku Tionghoa yang langsung terjun, tentunya akan lebih memahami dan lebih mudah melakukan pendekatan kepada pelaku usaha serta mengetahui persoalan yang ada. Bisa menyambung aspirasi. Bahkan, tidak jarang menjadi jembatan komunikasi antarkelompok masyarakat yang sebelumnya masih merasa adanya jurang pemisah. Bukan artinya saya jadi juga untuk kepentingan pribadi dan etnis Tionghoa saja,” ujar penggiat seni di Lampung ini.

Berpolitik dengan niat tulus.

Dia mengakui kehadirannya di kancah politik sedikit banyak membuka pemahaman masyarakat untuk menerima beberapa kebudayaan dan bahasa suku Tionghoa, antara lain seni olahraga barongsai ataupun Imlek.

Hartarto mengaku beruntung eksistensinya di partai sangat diterima dan diperhitungkan. Terlebih, partai Demokrat merupakan partai nasional religious. Demikian halnya dengan rekan partai Islam, baginya semua merespons dengan baik. Sebab, perjuangannya bukan khusus komunitas saja, melainkan untuk semua kalangan.

Pergerakan di ranah politik diiringi niatan yang tulus untuk menjembatani antara pemerintah, DPRD, dan pelaku usaha. Dengan demikian, bagi Hartarto ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam rangka menjembatani aspirasi masyarakat kepada pemerintah. “Kami tahu sendiri, bukan kami mengecilkan birokrat, terkadang mereka tidak mengetahui kompleksnya persoalan di dunia usaha.”

Ada beragam suka duka dan tantangan dalam berpolitik. Kendati begitu, bagi Hartarto ini merupakan konsekuensi logis dalam menyuarakan kebenaran dan aspirasi rakyat. Kesalahpahaman sangat rentan terjadi, tetapi bagi Hartarto kebenaran harus tetap disuarakan.

Salam eksis di dunia politik, Hartarto juga aktif menhidupkan dunia olahraga di Provinsi Lampung. Tujuannya meningkatkan prestasi atlet sehingga dapat menjadi kebanggaan daerah di kancah nasional dan bisa menjadi Industri.

“Selain mau berbuat dalam peningkatan prestasi atlet. Olahraga tidak akan kuat tanpa dukungan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat,” kata Ketua Umum Asosiasi PSSI Lampung ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*