Berita Terbaru
Home » EKONOMI » Ketidakpastian Ekonomi Berlanjut
Ketidakpastian Ekonomi Berlanjut

Ketidakpastian Ekonomi Berlanjut

Ketidakpastian global menjadi penyebab nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan merosot dibandingkan pada awal tahun 2015, serta melemahnya aspek usaha di tanah air seperti perdagangan, jasa dan hiburan.

Ketidakpastian bidang ekonomi Indonesia yang berasal dari faktor luar, yaitu rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, sudah terjadi sejak awal tahun. Situasi ketidakpastian itu telah menyebabkan nilai tukar rupiah dari Rp 12.474 per dollar AS pada 2 Januari terdepresiasi menjadi Rp 14.802 pada hari ini berdasarkan kurs Bank Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan sejak awal tahun melemah 16,2 persen. Bank Indonesia menyebut, sepanjang Januari-September 2015 dana asing yang masuk hanya Rp 40 triliun, sementara pada periode yang sama tahun lalu Rp 170 triliun.

Pelemahan nilai tukar dan harga saham sebetulnya juga disebabkan oleh beberapa faktor lainnya, yaitu :

(1)    Masih banyak investor yang belum melihat Indonesia sebagai tempat yang menarik untuk berinvestasi.

(2)    Kedua, adalah ketergantungan yang meningkat pada impor barang modal dan produk akhir barang konsumsi sedangkan ekspor Indonesia hanya bergantung pada komoditas perkebunan (minyak sawit) dan barang tambang (batubara) yang setahun terakhir inipun harganya jatuh di pasar global.

(3)    Ketiga, adanya aksi borong dollar oleh para pelaku dunia usaha atau orang berduit dalam momen berlibur ke luar negeri ataupun perusahaan dalam negeri membayar hutang dalam bentuk dollar.

(4)    Keempat, lemahnya para kepala daerah dalam pemanfaatan tempat-tempat pariwisata untuk menjadi salah satu daya tarik pihak luar negeri untuk dating ke Indonesia.

(5)    Kelima,  kurangnya kesadaran dalam pengelolaan lingkungan sehingga menyebabkan kebakaran hutan yang mengakibatkan terganggunya negara-negara sekitar.

(6)    Keenam, adalah kasus korupsi yang ada di tanah air, ditambah lagi kasus-kasus yang dilakukan oleh calon maupun partai sebagai perahunya terjadi menjelang Pilkada serentak ini  akan terus memicu lemahnya nilai tukar rupiah.

Pada sisi lain, system keuangan kita masih perlu dikembangkan dari sisi ukuran, likuiditas pasar, akses individu pada jasa keuangan, serta kelembagaan yang membuat jasa keuangan bekerja efisien dan berkelanjutan.

Sementara ini paket deregulasi yang ditawarkan pemerintah yang bertujuan menciptakan persepsi Indonesia tetap menarik untuk investasi langsung belum memberi dampak sesuai harapan.

Pada saat bersamaan kita menghadapi sumber ketidakpastian yang lebih sulit diprediksi, yaitu perekonomian Tiongkok. Sejumlah pihak menyangsikan pertumbuhan ekonomi di negara itu setinggi angka resmi. Jika pertumbuhan riil lebih rendah daripada target, bukan tidak mungkin pemerintah Tiongkok akan mendevaluasi yuan lagi. Hal ini menjadi ancaman pada nilai tukar rupiah.

Dalam situasi ketidakpastian yang tinggi di tingkat global, pemerintah harus menunjukkan kekompakan, tidak saling bersaing, sehingga menimbulkan citra yang baik bagi negara investor.