Berita Terbaru
Home » POLITIK » Incumbent Versus Alternatif
Incumbent Versus Alternatif
Ilustrasi Gambar : Bawaslu Jateng

Incumbent Versus Alternatif

Bandar Lampung-Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah serentak di delapan kabupaten/kota di Lampung akan menjadi arena calon incumbent versus calon alternatif. Pertarungan bakan kian menarik karena posisi incumbent, antara kepala daerah dan wakilnya, kemungkinan besar “bercerai” dan maju sendiri-sendiri. Kompetisi antara calon incumbent dan calon alternative berpotensi terjadi di enam dari delapan kabupaten/kota yang akan menggelar pilkada serentak Desember mendatang. Keenamnya adalah Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, lampung Timur, dan Way Kanan.

Dari enam daerah ini, empat daerah di antaranya bakal terjadi “perceraian” antara kepala daerah dan wakilnya, yang kemudian maju sendiri-sendiri. Keempatnya adalah Bandar Lampung, Herman HN dan Tobroni Harun, Lamsel (Rycko Menoza dan Eki Setyanto), Pesawaran (Aries Sandi Darma Putra dan Musiran) serta waykanan (Bustami Zainuddin dan Raden Nasution). Ini belum termasuk Lamteng, dimana Pairin “hijrah” untuk maju dalam Pilkada Metro, sedangkan Mustafa tetap[ mencalonkan diri di kabupaten setempat.

Diantara pertarungan incumbent yang pecah kongsi, kemungkinan muncul calon-calon alternative yang siap bersaing. Di Bandar Lampung misalnya, ada nama Kherlani yang pernah menjabat wakil wali kota periode 2005-2010, anggota DPRD Lampung dari Partai Golkar Tony Eka Candra dan anggota DPRD Lampung dari Partai Demokrat berlatar belakang pengusaha Hartarto Lojaya.

Akedemisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) Roby Cahyadi) menjelaskan, antara calon incumbent dan calon alternative memiliki popularitas (tingkat ketenaran) dan elektabilitas (tingkat penerimaan) yang berbeda di mata masyarakat.

“Jika bicara elektabilitas, itu proses. Bisa saja calon incumbent kalah karena tidak mengelola citra dirinya secara baik. Contohnya, calon walo kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno saat Pilkada Bandar Lampung 2010. Saat itu dia bisa kalah dengan Herman HN,” kata Roby, Rabu (18/3).

Selain di Bandar Lampung, kemunculan calon-calon alternative juga terjadi di Lamsel, Lamteng, Pesawaran, Lamtim, dan Way Kanan. Di Lamsel, ada nama Zainuddin Hasan, adik kandung Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI yang baru terpilih sebagai ketua DPP Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan. Selain itu, Sekretaris Kabupaten Lamsel Sutono.

Di Lamteng, ada nama Loekman Djoyo Soemarto, kepala Dinas Tenaga Kerja Bandar Lampung yang juga adik kandung Jaksa Agung M. Prasetyo. Sementara di Pesawaran, ada anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera Almuzzammil Yusuf dan Dendi Ramadona, putra Zulkifli Anwar, anggota DPR RI dari Partai Demokrat.

Kemudian di Lamtim, calon incumbent Erwin Arifin akan mendapat tantangan dari Yusran Amirullah. Terakhir, di Way Kanan, ada nama Ali Rahman, mantan kepala Dinas Bina Marga Lampung.

Roby memaparkan, calon alternative juga bisa menang jika merujuk teori “elektabilitas tertentu”.”Contoh gubernur Lampung, dari nothing jadi something. Ini pencitraannya baik. Karena, masalah elektabilitas itu ada banyak teori. Teori money politics (politik uang) bisa masuk. Teori rasionalitas, misalnya, memandang calon pintar, ganteng, dan ramah,” ujarnya.

Trubun Lampung, 19 Maret 2015